Selamatkan Bumi Papua Melalui Film
Banyak cara yang bisa dilakukan untuk menyelamatkan bumi Papua dari eksploitasi hutan secara besar-besaran. Salah satunya yakni dengan menggunakan saran media Film. Itu pula yang dilakukan beberapa Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) di Papua bersama masyarakat local yang peduli terhadap ancaman kepunahan hutan di Papua.
Alhasil, film yang menggambarkan bagaimana ekploitasi hutan di Papua itulah yang baru saja di launching, di Jakarta. Film documenter ini dilaunching sehubungan agenda besar konsolidasi masyarakat sipil Papua yang bertema "Selamatkan Manusia dan Hutan Papua". Seluruh proses pembuatan film ini dilakukan oleh LSM-LSM Papua dan bekerjasama dengan masyarakat lokal yang merasakan dampak hadirnya industri kayu dan sawit.
Sekilas kompilasi film unik ini menggambarkan dampak hadirnya perusahaan kayu dan sawit di Papua, terhadap masyarakat Papua. Selian itu film ini juga menunjukkan peningkatan upaya dan peran serta masyarakat sipil dalam pengambilan keputusan terkait pemanfaatan hutan mereka.
Seperti diketahui, Papua memilik hutan terluas di Asia Pasifik. Selain itu Papua juga merupakan salah satu tempat paling beragam masyarakat adatnya di dunia.Masyarakat Papua masih menggantungkan hidupnya pada hutan. Akan tetapi, hubungan antara masyarakat dan hutan ini menghadapi ancaman. Penyebabnya akibat eksploitasi hutan berlebihan dan rencana jutaan hektar untuk perkebunan sawit.
Film- film yang dibuat di Sorong, Arfak, Bintuni, dan Mappi menunjukkan bagaimana kehadiran perusahaan kayu, perkebunan sawit, dan bisnis gaharu mengakibatkan konflik horizontal, kerusakan lingkungan, masyarakat kehilangan hak ulayat dan sumber kehidupan. Di beberapa tempat bahkan terjadi itimidasi dan penipuan terhadap masyarakat.
Karena itu Ketua Perkumpulan Triton Sorong Ronny Dimara mengatakan masyarakat adat Malamoi mendesak pemerintah menghentikan aktivitas penebangan dan perkebunan sawit yang mengeksploitasi dan merusak lahan adat mereka. Ambil contoh kasus di Arfak dan Bintuni memperlihatkan model industri kehutanan dan perkebunan sawit milik negara yang berdampak sosial, keuangan dan persoalan lingkungan besar di Papua.
Ke depan, jejaring kelompok masyarakat sipil yang terlibat dalam pembuatan film ini akan menggunakan film ini untuk mendorong adanya mekanisme konsultasi publik dalam proses pengambilan kebijakan publik di sektor kehutanan Papua. Selain itu, kerja sama dan film ini pun akan digunakan untuk mendorong terbukanya akses informasi di sektor kehutanan di Papua secara khusus, dan Indonesia secara umum.
Keempat film pendek ini yang dibuat selama tiga bulan ini tidak hanya memaparkan beragam persoalan yang terjadi di Papua.Ttapi juga menunjukkan bagaimana kelompok-kelompok masyarakat melibatkan diri dalam proses penyelesaian persoalan tersebut. Pastor Decky Ogi, MSC, Direktur SKP-KAM mengatakan, untuk menyelesaikan problem seperti deforestasi dan HIV/AIDS yang terkait erat dengan bisnis gaharu di Mappi, pihaknya telah melakukan advokasi yang mendorong adanya kebijakan yang demokratis dan sekaligus mengajak pemerintah dan para pihak duduk bersama.
Kompilasi film ini dirilis sehubungan dengan agenda konferensi dunia tentang perubahan iklim di Bali bulan Desember 2007 yang mana salah satu agenda pentingnya adalah avoiding deforestation. Relevansi film ini dengan agenda tersebut sangat jelas.Yakni masyarakat lokal di Papua telah menderita akibat deforestasi (karena eksploitasi).Padahal seharusnya mereka memainkan peran penting untuk menghindari deforestasi (dan penderitaan) lebih lanjut
Tidak ada komentar:
Posting Komentar